large image
MENU ALTERNATIF
PENGUMUMAN TERBARU
AGENDA TERBARU
JAJAK PENDAPAT

Bagaimana menurut pendapat anda tentang tampilan website PD KMHDI Sul-Sel ini?

Kurang
Cukup
Sangat Bagus
Tidak Tahu

Lihat Hasil Polling
STATISTIK PENGUNJUNG
  • Dikunjungi oleh : 182524 user
  • IP address : 54.198.119.26
  • OS : Unknown Platform
  • Browser :
KADERISASI atau MATI
Kategori Berita | Diposting pada : 2013-10-03 -|- 06:24:00 oleh Admin
Share this article on

Membaca judul diatas mungkin akan menimbulkan gejolak didalam hati setiap kader-kader KMHDI terkhusus PD KMHDI SULSEL. Betapa tidak, Kaderisasi merupakan bagian penting bagi KMHDI. Pada umumnya kaderisasi bagi setiap organisasi terjadi pada masa penerimaan anggota baru yang kemudian disebut “Pengkaderan”, namun berbeda dengan KMHDI yang setiap proses didalamnya mengandung nilai kaderiasi untuk membuat setiap kader-kadernya menjadi lebih baik dari sebelumnya.


Sehingga sangat ironis jika proses yang dilalui oleh setiap kader tidak memberikan peningkatan kualitas terhadap kader terssebut. Bisa jadi pengkaderan dan berbagai prosesnya ternyata tidak sanggup melahirkan banyak kader sesuai yang di cita-citakan oleh organisasi ini. Bisa jadi juga kaderisasi yang dilakukan KMHDI tidak sanggup membuat mahasiswa Hindu tertarik untuk bergabung, sehingga terjadi kelangkaan kader. Ya, bisa jadi…!!! Jika semua itu terjadi, lalu apalah arti KMHDI ??? Apakah dapat dikatakan bahwa KMHDI “Mati” ???


Ayo kita melihat kembali kebelakang tentang alasan yang membuat KMHDI masih ada hingga saat ini. Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) merupakan organisasi yang menaungi seluruh mahasiswa-mahasiswi Hindu di nusantara. Sejak awal terbentuknyapun KMHDI telah membulatkan tekat untuk membentuk dan melahirkan kader-kader yang mempuni dan siap untuk terjun serta mengabdikan diri untuk bangsa dan Negara terlebih lagi untuk agama Hindu yang disebut sebagai Dharma Agama dan Dharma Negara. Tekat dan keinginan tersebut didasari oleh berbagai faktor antara lain :


* Hindu adalah agama minoritas.


* Belum adanya lembaga yang dapat menyatukan sesama mahasiswa Hindu pada masa itu.


* Keprihatinan atas kondisi umat Hindu yang mengalami grafik menurun dari masa kejayaannya di nusantara.


* Kurangnya pemimpin-pemimpin Hindu akibat rendahnya kuantitas dan kualitas umat Hindu.


Cita-cita mulia KMHDI diwujudkan melalui indicator religiusitas, humanisme, nasionalisme dan progresifitas mahasiswa Hindu. Namun bukan satu hal mudah untuk mewujudkan mimpi tersebut. Berbagai persoalan-persoalan mendasar dari kaderisasi kemudian muncul. Mulai dari kurangnya kader, kurangnya sosok pemimpin, hingga tidak tercapainya esensi dari kaderisasi itu sendiri. Menjadi sebuah dilema ketika mahasiswa Hindu lebih memprioritaskan Organisasi sebagai tempat mencari teman ketimbang mewujudkan tujuan organisasi yaitu menumbuhkembangkan semangat religius, humanis, nasionalis dan progresif seperti tujuan KMHDI. Sehingga terbentuklah kader-kader yang rajin hadir tapi tidak peka terhadap kegiatan organisasi, atau anggota yang apatis terhadap kegiatan organisasi. Kemudian tidak mengherankan jika ternyata banyak kader yang tidak tahu apalagi paham akan Anggaran Dasar Organisasi.


Kondisi ini merupakan sebuah proses yang wajar terjadi pada sebuah organisasi tidak terkecuali PD KMHDI SULSEL. Namun yang terpenting adalah bagaimana pengurus dan seluruh kader mampu bercermin dari latar belakang terbentuknya KMHDI dengan cita-cita mulianya, dan kemudian terus berusaha untuk berbenah diri untuk mencapai cita-cita tersebut.


Pimpinan Daerah KMHDI Sulawesi Selatan dengan sengat baru tengah berusaha melakukan hal tersebut dengan kembali kepada “relnya”. Pengkaderan yang dilakukan akan diupayakan tidak hanya berorientasi pada “Masa Pengenalan Anggota Baru (MPAB)” dan juga “Dilat Manejemen Organisasi (DMO)”. Semua proses yang dilalui oleh setiap kader dalam bentuk pelaksanaan program kerja akan mengandung makna pendewasaan kader. Dengan begitu diharapkan kader-kader PD KMHDI Sulawesi Selatan dapat tumbuh menjadi generasi-generasi yang unggul secara kualitas.


Semoga semangat kaderisasi ini akan tetap terjaga hingga Hindu mencapai masa kejayaannya kembali. Karena hanya dengan menjalankan kaderisasi dengan benar, maka organisasi ini akan tetap “Hidup” dan berdiri pada jalurnya sendiri, bukan pada jalur orang lain. Sekali lagi KMHDI adalah organisasi kader, maka pengkaderan adalah jiwa KMHDI.


“KADERISASI ATAU MATI….???”


Oleh : Biro LITBANG PD KMHDI SULSEL (PUTU DARSANA)



Baca Juga Berita Lainnya