large image
MENU ALTERNATIF
PENGUMUMAN TERBARU
AGENDA TERBARU
JAJAK PENDAPAT

Bagaimana menurut pendapat anda tentang tampilan website PD KMHDI Sul-Sel ini?

Kurang
Cukup
Sangat Bagus
Tidak Tahu

Lihat Hasil Polling
STATISTIK PENGUNJUNG
  • Dikunjungi oleh : 189887 user
  • IP address : 54.225.26.44
  • OS : Unknown Platform
  • Browser :
Umat Hindu Kota Makassar Rayakan Melasti di Pantai Akarena
Kategori Berita | Diposting pada : 2013-03-11 -|- 10:12:00 oleh Admin
Share this article on

Menghadapi hari raya Nyepi Tahun Baru Saka 1935 yang jatuh, Selasa, 12 Maret besok, puluhan umat Hindu menggelar ritual berupa Upacara Melasti di Tanjung Akkarena, Jalan Metro Tanjung Bunga, Makassar, Minggu, 10 Maret.


Upacara Melasti disebutkan sebagai salah satu tahapan ibadah sebelum memasuki upacara puncak Nyepi. Tahapan ini diyakini sebagai upacara pembersihan atau pensucian umat sebelum memasuki raya Nyepi.


Pada Upacara Melasti ini mereka menyiapkan beberapa sesajian yang dianggap sebagai simbol kehidupan, di antaranya daun sebagai simbol pemelihara alam (wisnu), buah sebagai simbol pelebur (siwa), serta kembang sebagai simbol ketulusan, keheningan, dan keindahan,
Menurut salah satu tokoh Hindu di sela upacara itu kemarin, I Ketut, mengatakan, upacara pertama ini sengaja dilakukan di wilayah pantai, karena pantai merupakan sumber air, sumber peleburan, dan sumber kehidupan.


Umat Hindu juga mempersembahkan beberapa ekor hewan berupa itik dsan dilepaskan ke laut sebagai simbol persembahan kepada pemilik alam.


“Kami melepaskan beberapa ekor itik sebagai persembahan ke bibir pantai,” ujarnya.


Terpisah, Ketua Paruman Walaka Parisade Hindu Dharma Indonesia Kota Makassar, Nyoman Suarta, menyatakan, peringatan hari Nyepi di Indonesia merupakan harmonisasi antara budaya Hindu India dan Indonesia.


“Rangkaiannya itu disebut dengan Bisango Parisade. Yaitu, Melasti, Taur Kesango, Nyepi, Dharma Santi,” ujarnya.


Pada perayaan hari Nyepi besok, umat Hindu tidak diperbolehkan bepergian meninggalkan rumah, tidak boleh bekerja, kemudian tidak boleh menyalakan api, memasak, merokok, serta mereka tidak diperbolehkan menghibur diri seperti menonton televisi.


Dia juga menjelaskan, peringatan Nyepi tidak terlepas dari budaya  sejarah tahun Saka. Pada bulan Maret dan awal bulan April, terjadi  penobatan raja pertama di India, Raja Kaniska. Raja ini dianggap dapat mempersatukan beberapa suku di India yang sering terlibat perang.


“Raja Kaniska mendamaikan suku suku itu dengan menggunakan pendekatan budaya, tidak menggunakan kekerasan. Maka dari itu, kedamaian tersebut diperingati sebagai Tahun Saka 78 Masehi,” jelas Nyoman.


Sementara itu, pada perayaan Nyepi ini aparat kepolisian kembali diturunkan untuk mengamankan rumah ibadah umat Hindu di kota ini. Pengamanan tersebut berlangsung hari ini hingga dua hari mendatang.
Hal tersebut diungkapkan Kepala Bagian Oprasional (Kabag Ops), Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Muh Ridwan, melalui via telepon kemarin.
“Sekitar 300 sampai 400 personil Polrestabes Makassar dibantu dengan polsek-polsek yang ada diturunkan,” kata Ridwan.


Selanjutnya, pola pengamanan dilakukan secara terbuka dan tertutup. Selain pengamanan Nyepi, pengerahan ratusan aparat juga dimaksudkan untuk mengantisipasi terjadinya gangguan kamtibmas yang berpotensi mengganggu ritual ibadah umat Hindu. “Pengamanan perlu. Apalagi, sekarang tengah long weekend,” tutur Ridwan.


Dia berharap agar semua pihak saling menghargai sehingga perayaan Nyepi umat Hindu di Kota Makassar bisa berjalan lancar.


Beberapa rangkaian perayaan Nyepi yang dijaga polisi terdiri seperti Upacara Melasti, Tawur (Pecaruan), dan Pengerupukan. Puncak acara Nyepi dirayakan tanpa ada kegiatan, dimana semua umat Hindu melaksanakan Catur Brata dan berdiam di rumah. “Semuanya kami harap berjalan lancar dan aman,” katanya.


Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Kepolisian Daerah (Polda) Sulselbar, Komisaris Besar Endi Sutendi, mengatakan, pihaknya menyerahkan sepenuhnya pengamanan ke kepolisian setempat.


Pasalnya, setiap daerah memiliki potensi gangguan kamtibmas yang berbeda. “Kami serahkan ke polres dan polsek setempat,” katanya.
Terpihsa, Kepala Dinas Pariwisata Kota Makassar, Rusmayani Majid, mengatakan, untuk menghormati perayaan Nyepi  besok, pihaknya mengeluarkan surat edaran kepada seluruh tempat hiburan malam (THM) untuk menutup aktifitasnya.


Penutupan THM dimulai malam nanti atau sehari sebelum dan setelah Tahun Baru Saka 1935. Di Kota Daeng terdapat sekitar 200 THM seperti rumah bernyanyi, klub malam, diskotik, dan live musik. Sedang, panti pijat berkisar 55 titik.


Siaga SAR


Mengantisipasi hari libur besok, tim Search and Rescue (SAR) Universitas Negeri Makassar (UNM) akan membuka posko selama libur nasional selama tiga hari berturut-turut.


Koordinator Tim SAR UNM, Irmawati, melalui pesan singkat kepada Cakrawala mengatakan, selama liburan tiga hari tersebut, pihaknya membuka posko SAR di sekitar Tanjung Akkarena guna mengantisipasi adanya bencana atau kecelakaan di laut yang tidak terduga.


“Kami bentuk siaga layar satu guna mengantisipasi kecelakaan yang bakal terjadi, menyusul banyaknya pengunjung di hari libur panjang ini,” jelasnya.


Posko itu dibuka di Tanjung Bayang, Tanjung Bunga, dan Pantai Akkarena, mulai Minggu, 10 Maret, mulai pukul 09.30-17.00 Wita. Operasi SAR dilakukan setelah pihaknya mendapat laporan umat hindu menggelar Upacara Melasti di bibir pantai yang menjadi lokasi wisata.


“Hingga kini ada dua korban yang nyaris tenggelam berhasil kita selamatkan,” bebernya. 


Sumber: http://cakrawalaberita.com



Baca Juga Berita Lainnya