large image
MENU ALTERNATIF
PENGUMUMAN TERBARU
AGENDA TERBARU
JAJAK PENDAPAT

Bagaimana menurut pendapat anda tentang tampilan website PD KMHDI Sul-Sel ini?

Kurang
Cukup
Sangat Bagus
Tidak Tahu

Lihat Hasil Polling
STATISTIK PENGUNJUNG
  • Dikunjungi oleh : 176933 user
  • IP address : 54.167.83.233
  • OS : Unknown Platform
  • Browser :
Sifat Agamais dikalahkan Sifat Magis
Kategori Berita | Diposting pada : 2013-11-06 -|- 06:43:00 oleh Admin
Share this article on

Sejatinya konstruksi umat Hindu dibangun di atas fondasi ajaran Siwa Siddhanta, dan Tantra yang dalam implementasinya dikemas dalam nuansa magis. Siwa Siddhanta menekankan pada upaya membangkitkan spirit kesucian diri (siddhi), guna mencapai Realitas Tertinggi (Siwa) dalam spektrum kalepasan (moksa). Siwa adalah Tuhan maha kasih yang karunia dan cinta kasih-Nya tak terbatas. Sentrum cinta kasih inilah yang kemudian menjadikan ajaran Siwa Siddhanta laksana serum penggairah bagi umat Hindu (Bali) dalam melakukan penghormatan terhadap Siwa sebagai hari-hari kemenangan dan kesadaran lewat ritual-ritual yadnya seperti halnya Galungan dan Kuningan. 


Sementara itu, elemen Tantra (Tantrayana) sebagai inner power ditandai dengan ciri utama pemujaan kepada sakti (Phalgunadi, 2005). Ajaran Tantra inilah kemudian banyak mewarnai perkembangan Hindu, yang akhirnya membentuk karakter umat Hindu sebagai masyarakat sosiomagisreligius. Hanya saja dalam praktik kehidupan beragamanya, terjadi marginalisasi sifat-sifat agamais oleh watak-watak magis yang lebih kuat mendorong, merangsang bahkan menantang jiwa-jiwa manusia untuk tampil super ego dengan kecenderungan mengarah pada pencapaian sakti. Kata sakti, yang semula berada dalam pengertian memuja kekuatan dalam manifestasi sebagai Dewi dengan laku spiritual (sadhana) guna mencapai ketinggian tingkatan rohaniah (siddhi), dalam perjalanan historiknya, konotasi sakti dipandang sebagai media membangkitkan kekuatan (gaib), sehingga praktik Tantra diidentikkan dengan perilaku magis atau mistis (Sutrisno, 2008).
Umumnya daya magis ini dikelompokkan menjadi beberapa jenis, yaitu magis simpstetik (analogi), magis protektif (tolak bala), magis destruktif (menyakiti orang lain), magis produktif (kesuburan, kesejahteraan) dan magis prognotif (ramalan) (Sumardjo, 2002).


Praktik magis ajaran Tantra yang sebenarnya bertujuan mendapatkan kekuatan gaib guna mencapai ke-siddhi-an ini, telanjur mendapat label atau stigma sebagai perilaku magis destruktif dengan tujuan membangkitkan kekuatan sakti (kawisesan) untuk menyakiti orang lain. 


Dalam konteks dunia gaib, apa yang di Bali dikenal sebagai leak, merupakan salah satu menifestasi dari sekian banyak watak atau karakter orang Bali yang relatif suka membuat orang lain berduka (sedih karena disakiti atau mengalami kematian). Karakteristik model begini menjadi indikasi bahwa konsep agamais ajaran Tat Twam Asi yang mengamanatkan umat agar hidup saling mencintai dengan tidak menyakiti (Ahimsa) sepertinya telah tereliminasi oleh arogansi praktik Sad Ripu (enam musuh dalam diri: Kama (hawa nafsu), Krodha (kemarahan), Lobha (keserakahan), Mada (mabuk), Moha (bingung) dan Matsarya (iri hati) yang tampaknya tak pernah padam dilampiaskan dengan cara-cara magis, mistis atau klenis.




Bertendensi Destruktif


Merujuk pada tataran keseharian (sakala), kekuatan sakti bertendensi destruktif lewat perbuatan menyakiti ini tampak terekspresi ke dalam bentuk sikap berani (wanen, memayu, memuuk, mamunyah, ngadug-adug, memati-mati), disertai tindakan keras (mengarah kasar: ucapan dan perilaku), dan yang paling kental adalah menganggap remeh/enteng prinsip-prinsip agamais ajaran Hindu yang mengharamkan perilaku adharma (kebatilan, kejahatan) karena berpotensi terjerumus ke dalam jurang petaka (dosa) dan akan membawa malapetaka (masalah dan musibah). Contoh kasus dapat dikemukakan, melakukan perbuatan mabuk-mabukan (punyah), main judi (dyuta), membuat keributan (byuta) hingga memicu bentrok fisik, tawuran, saling serang (antar-banjar, antar-umat antar-ormas), bahkan menggunakan sarana senjata dan itu dilakukan saat momen rangkaian hari suci seperti Galungan dan Kuningan berlangsung. Peristiwa dan perbuatan itu, selain sangat memalukan juga memilukan, sekaligus menodai kesucian agama (yadnya, dan nilai bakti). 


Rangkaian hari suci Galungan dan Kuningan yang bernuansa agamais (religis) dengan amanat utama memenangkan dharma (mulai dari diri sendiri) ternyata dengan mudah dikalahkan oleh watak magis yang lebih mengobarkan gairah magic lewat semangat adharma guna menyakiti sesama. Kibaran panji dharma lewat simbol Penjor Galungan dan Tamiang Kuningan, rupanya dengan mudah dipatahkan dan dikalahkan oleh serangan tiada henti sepanjang hari lewat nafsu-nafsu iri hati yang bermuara pada rasa dengki, sikap benci dengan target menyakiti, bila perlu hingga mati.


Akhirnya teologi yang dipraktikkan melalui perayaan hari-hari suci yang sejatinya terobsesi dan berdimensi kontemplasi dengan tujuan mencapai kesadaran Illahi tingkat tinggi (Hyang Widhi), harus menyerah kalah oleh ideologi modern yang menurut Arnold Toynbee (dalam Amin, 1989) justru melahirkan peradaban yang lebih banyak menghancurkan dari pada membangun. Artinya, ideologi modern dengan jargon pembangunan (fisikal-material-finansial) ternyata menjadi kontraproduktif dengan teologi agama yang lebih berorientasi kepada pencapaian pembebasan (kalepasan= kesadaran spiritual).


Dalam situasi paradoks begini, posisi keberagamaan umat Hindu dengan modal dasar sifat-sifat agamais tampak tak lebih sebagai 'tirai asap' (kamuflase) atas citra Hindu sebagai sanatana dharma (dharma yang mengabadi), padahal kuasa adharma tak juga pernah berhasil dikalahkan sepanjang hari. Refleksi atas perayaan hari suci Galungan dan Kuningan sejatinya hendak menuntun umat agar bisa mensinergikan sifat-sifat agamais dengan watak magis sehingga menghasilkan karakter umat Hindu yang siddhi (suci), sakti (kuat) dan akhirnya siddha (berhasil) mencapai tujuan hidup (sidhaning don). Penjor Galungan adalah panji kemenangan dharma, yang jika dikolaborasikan dengan Tamiang Kuningan akan semakin menguatkan sradha bhakti umat, untuk seterusnya tidak mudah kalah dan menyerah oleh sepak terjang dan serangan adharma dengan segala manifestasi keburukan dan kejahatannya.


Penulis, dosen F.Pas Unhi Denpasar


Oleh I Gusti Ketut Widana


 



Baca Juga Berita Lainnya